Waktu Anda memutuskan untuk redesign website, angan Anda apa sih? Pastinya, Anda menginginkan adanya peningkatan, kan?
Entah itu dari sisi user experience-nya maupun konversi website Anda. Tapi, nan terjadi malah sebaliknya.
Setelah redesign selesai, traffic website malah anjlok tiba-tiba. Bahkan, turunnya sangat drastis dibanding keadaan biasanya.
Sebagai pemilik website, Anda pasti bingung dengan keadaan ini. Memangnya bagian mana sih nan salah sampai traffic website anjlok?
Anda tidak perlu panik lantaran di tulisan ini kami bakal membantu Anda untuk mencari tahu penyebab traffic website turun setelah redesign.
Yuk, simak selengkapnya dalam pembahasan berikut ini!
Penyebab Traffic Turun Setelah Redesign Website
Dalam mengelola website, nan namanya traffic turun itu wajar terjadi, termasuk setelah proses redesign website selesai.
Biasanya pun, traffic bakal kembali seperti semula setelah beberapa minggu alias bulan lantaran Google kudu men-crawling ulang website Anda.
Hal ini lantaran Google dan mesin pencari lainnya nan memerlukan waktu untuk recrawling dan mengindeks tiap laman baru di website Anda.
Namun, ini hanya bertindak jika penurunan traffic tidak banyak alias sekitar 5-10% dari rata-rata sebelum redesign website.
Nah, jika traffic website Anda mengalami penurunan drastis dalam waktu singkat setelah redesign, artinya ada penyebab lainnya.
Baca juga: Hindari 5 Kesalahan Ini dalam Redesign Website, Wajib Simak!
1. Halaman Terhapus
Apakah saat proses redesign website ini, Anda sempat menghapus salah satu laman nan ada?
Anda mungkin menghapus salah satu laman di website untuk menyederhanakan tampilan agar visitor lebih nyaman.
Jika ini tujuan Anda, tidak masalah sama sekali. Namun, Anda juga kudu memandang nilai dari laman tersebut.
Apakah laman tersebut menyumbang traffic organik nan besar untuk website Anda?
Kalau iya, menghapusnya tanpa pertimbangan hanya bakal membikin penurunan traffic nan drastis pada website Anda.
Cobalah Anda bandingkan keadaan traffic sebelum dan sesudah redesign melalui Google Analytics dan Google Search Console.
Jika memang laman tersebut lah penyebab penurunan traffic nan drastis ini, artinya Anda kudu melakukan tindakan.
2. Redirect URL Hilang
Ketika proses redesign berlangsung, Anda mungkin sempat memindahkan beberapa konten ke URL nan baru.
Atau mungkin Anda juga melakukan perubahan nih pada struktur URL dari website Anda.
Nah, perubahan dan redirect URL ini bisa jadi salah satu penyebab traffic website nan turun setelah proses redesign nih.
Kenapa bisa bikin traffic turun drastis? Penyebab utamanya adalah lantaran redirect nan Anda lakukan hilang.
Selain itu, bisa juga lantaran setting-an redirect URL nan kurang tepat nih. Sehingga, ini berujung pada penurunan traffic.
Nah, untuk mengetahui apakah ini penyebab dari traffic website nan turun setelah redesign, coba cek di Google Analytics dan Search Console.
Jangan lupa juga untuk mengunjungi masing-masing URL nan Anda redirect. Lihat apakah URL tersebut betul-betul mengarah ke laman baru.
Kalau hasilnya memang terjadi penurunan traffic dan laman tersebut bermasalah, berfaedah besar kemungkinan ini penyebabnya.
3. Halaman Dilarang untuk Diindeks
Saat proses redesign website berlangsung, setiap laman nan ada bakal diubah statusnya menjadi offline.
Dengan kata lain, website Anda tidak bakal terlihat di internet, baik oleh visitor maupun Google.
Karena jika website dalam keadaan online, ini hanya bakal membikin visitor dan Google bingung.
Namun, terkadang setting-an ini tetap bisa terbawa meski website redesign sudah diluncurkan.
Sehingga, Google tidak bisa mengindeks website Anda setelah redesign selesai, nan mana membikin traffic menjadi turun.
Nah, agar lebih pasti, cobalah Anda lakukan kajian terhadap traffic dari laman tersebut, baik sebelum maupun sesudah redesign.
Jangan lupa juga untuk menginspeksi URL dari laman maupun website Anda keseluruhan di Google Search Console.
Ini krusial nih untuk memandang apakah URL tersebut sudah alias bisa diindeks oleh Google di internet.
4. Arsitektur Website nan Berubah
Ketika Google maupun mesin pencari melakukan crawling, mereka bakal menggunakan arsitektur website Anda.
Nah, arsitektur ini digunakan untuk memandang dan memahami nilai setiap laman website Anda. Apakah krusial alias tidak?
Sehingga, ketika terjadi perubahan nan besar pada arsitektur website Anda, tentu ini bakal memberikan pengaruh pada traffic.
Sebetulnya tidak masalah sih jika Anda mau mengubah arsitektur website. Namun, kudu ada pertimbangan lebih dulu.
Anda kudu mempertimbangkan lebih dulu apakah nilai struktur tersebut bakal mempengaruhi performa SEO alias tidak.
Apalagi jika Anda bakal menghapus alias mengganti banyak link pada menu utama maupun laman nan sudah tua.
5. Perubahan Konten
Dalam melakukan redesign website, perubahan konten memang bisa saja terjadi dan ini tidak masalah.
Namun, sama seperti saat Anda menghapus halaman, bisa jadi konten nan Anda ubah ini rupanya penyumbang traffic tertinggi.
Sehingga, mengubah maupun menghapus konten tersebut tentu bakal memberikan pengaruh nan signifikan pada traffic website Anda.
Ketika konten dipindahkan alias mungkin Anda tulis ulang, bakal ada beberapa perubahan nan terjadi.
Seperti struktur judul, tag judul, internal link, meta penjelasan dan sebagainya.
Namun kembali lagi, untuk memastikannya, sebaiknya Anda analisa info traffic melalui Google Analytics dan Search Console lebih dulu, ya.
6. Pengaruh Performa Website
Setiap redesign website, biasanya bakal ada beberapa komponen baru nih nan ditambahkan seperti gambar, animasi dan sebagainya.
Tujuannya tentu untuk membikin website jadi lebih menarik. Tapi, saat sudah launching, performa website malah menurun.
Terutama soal kecepatan loading nih. Nah, jika loading website Anda saja lambat, ini bisa membikin visitor jadi tidak nyaman, kan?
Akhirnya, visitor memilih untuk keluar dan mencari website lainnya di hasil pencarian nan lebih lancar.
Alhasil, traffic website Anda pun juga menurun dengan bounce rate nan meningkat.
Kalau Anda memang mau menambahkan animasi dan sebagainya, tidak masalah sama sekali, kok.
Namun, pertimbangkan juga performa website nantinya, ya. Jangan sampai tampilan sudah oke, tapi performa malah jelek.
Baca juga: Website Anda Lelet? Ini 7 Cara Mempercepat Loading Website!
Apakah Penurunan Kualitas Konten alias Hilangnya Keyword Penting dapat Membuat Traffic Website Turun?
Benar, jika kualitas konten nan ada di website Anda setelah redesign menurun, ini tentu juga bisa jadi penyebab traffic nan turun.
Tidak hanya itu, kualitas konten nan menurun juga bisa mempengaruhi ranking website Anda di Google.
Benar, jika navigasi utama dan lainnya diperjelas setelah redesign, ini bakal membantu meningkatkan traffic website Anda.
Hal ini lantaran user experience pengunjung jadi meningkat, nan mana ini bakal membikin retensi visitor juga meningkat.
Selain itu, tingkat bounce rate dari website Anda pun juga bisa berkurang nan mana ini baik untuk SEO.
Yuk, Tingkatkan Kembali Traffic Website Anda Sekarang!
Penurunan traffic pada website memang wajar terjadi. Ada banyak penyebab traffic website Anda bisa menurun.
Entah itu dari sisi visitor maupun konten website Anda sendiri. Redesign website pun juga bisa jadi salah satu penyebab traffic turun.
Namun, perihal ini wajar jika penurunan traffic hanya sedikit dan tidak terus-menerus. Kalau drastis dan terus-menerus, artinya ada nan salah.
Nah, jika penurunan ini terjadi setelah redesign website selesai, berfaedah ada perihal teknis nih nan salah saat proses kreasi dan launching.
Bisa jadi, ada laman nan terhapus, link nan hilang, redirect nan tidak tepat dan sebagainya.
Untuk mengetahui pastinya dan langkah mengatasinya, tentu Anda kudu menganalisa lebih dulu apa nan membikin traffic turun.
Kalau Anda baru mau melakukan redesign website, Anda bisa hubungi tim Bikin.Website untuk berkonsultasi.
Tenang saja, konsultasinya gratis, kok. Anda bisa konsultasikan masalah kreasi website Anda dan konsep nan Anda inginkan.
Konsultasikan Website Anda, Gratis!
Nah, sampai di sini dulu pembahasan kami kali ini, ya. Jika ada pertanyaan alias mau berdiskusi, jangan ragu buat drop lewat kolom komentar!
English (US) ·
Indonesian (ID) ·